12 July, 2017 02:34

http://world.quinnyandhopper.com

Murani Dwi Hapsari

Disandingkan lalu Dibandingkan? Siapa sih yang Mau?

Pernah nggak diam-diam memperhatikan obrolan ibu-ibu soal anak atau cucunya?

Sebagian besar porsinya sudah pasti membicarakan keberhasilan anaknya. Atau kalau cucu, pastilah soal si cucu sudah bisa ini itu.

That happened to me and Ara!
Hampir di setiap pembicaraan di telepon dengan Eyang-eyang didominasi topik “Ara sudah bisa apa? Cucu teman ibu sudah bisa begini begitu.”  Atau topik ”

Gimana panggilan kerjanya?Gimana, sudah dapat rumah belum? Anak teman ibu sudah beli rumah di anu. Sudah dapat kerja pula di perusahaan A.”

Hmm…Siapa sih yang nggak senang cucunya sudah pintar ini atau itu. Siapa sih yang nggak bahagia anaknya sudah mampu beli rumah atau bekerja dengan gaji berkecukupan?

Tapi kalau disandingkan kemudian dibandingkan, siapa sih yang mau?
Sy yakin niat sebenarnya untuk menyemangati bukan untuk menjatuhkan. Tapi buat yang mendengarkannya terus-terusan pasti ada enegnya juga. Sama kayak makan roti bakar kebanyakan kejunya..hihihi

Menurut sy, memang perlu sih sekali-sekali dibandingkan. Supaya yang dibandingkan juga semangat meningkatkan diri. Kalau kebanyakan…. ya seperti istilah sy tadi, roti bakar yang kebanyakan kejunya.

Dan setiap orang pasti punya progress masing-masing di setiap hidupnya kan? Bisa aja sy memang masih ngontrak rumah, tapi rumah sy nggak banjir. Mungkin anak temen ibu sy punya rumah sendiri, tapi rumahnya di pinggir kali (who knows? Hehe)
Mungkin Ara memang belom bisa begini tapi sudah bisa begitu. Sedangkan cucu teman ibu sy mungkin anaknya belum bisa begitu (who knows toh?)

Setiap orang punya milestone yang berbeda dan wajar juga kan kalau nilai keberhasilannya juga berbeda?
That’s what I’m gonna say, mom.. 🙂

After She’s Born (Alasan aja nih! :) )

Wooow…sejak post terakhir terbit, terhitung setahun sudah sy hibernasi. Sooooo many things happened dan cuma berlalu di otak sy aja. Sering banget berencana nulis di blog. Tapi yaah…macem2 kesibukan, ngurus Ara salah satunya, membuat sy gagal nge-post.

Tadinya blog ini mau sy dedikasikan buat Ara. Sebagai kenang-kenangan dan cerita waktu dia besar. Mau dilanjutin nggak ya? Hm..masih pengen sih. Moga-moga tetep semangat posting lah..

image

Ara 15 months

Saatnya Ayah Keren Beraksi! :)

Sebelum hamil dan melahirkan saya belum pernah berani menggendong bayi orang lain. Kalau yang sudah bisa duduk atau merangkak sih, sudah berani walaupun jarang saya lakukan. Maka ketika saya melahirkan, sempat terbersit dalam pikiran saya, bisa nggak ya nanti saya mengurus anak dengan benar?

Hari pertama dan kedua setelah Ara lahir, pelan-pelan saya belajar menggendong, mengganti popok, memandikan bayi, semuanya deh! Yang membuat saya sangat terbantu adalah ketika Bapak saya ikut membantu memandikan, menina-bobokan, juga mengganti popok Ara. WOW! Kok bisa sih, seorang Bapak bisa luwes mengerjakan hampir semua pekerjaan mengurus anak?

Sama Yangkuuung….

Dari cerita Ibulah terungkap kalau sebenarnya yang memandikan dan mengurus saya dan mas Yudi (kakak saya) waktu kecil, ya Bapak. Otomatis bibir ini membentu huruf ‘O’. “Hooo… Apa iya? Kok bisa?”

Lebih jauh sebelum menikah, Bapak ternyata sudah lihai dalam hal ‘mengurus anak’. Saat kuliah Bapak tinggal di rumah saudara yang punya beberapa anak yang masih kecil. Disitulah Bapak mulai ‘belajar’ memandikan anak dan mengurusi hal-hal lainnya. Makanya nggak heran ketika sudah punya anak, Bapak nggak canggung untuk mengurusnya sendiri.

Oiya, saya jadi teringat kisah Papah (mertua saya) yang punya cerita yang mirip dengan Bapak. Diwaktu mudanya Papah sering mengurus keponakan-keponakannya yang masih kecil. Kata Mamah, Papah sudah nggak canggung lagi mengurus si mas (suami saya) dan adik-adiknya.

Hmm,, buat saya keren lho punya Ayah yang nggak canggung mengurus anak! Dan saya bersyukur suami saya juga terlihat nggak canggung mengurus anak. Alhamdulillah…

Ayah, ayah…

Salut deh buat para Bapak, Ayah, Papa diluar sana yang juga mau merasakan serunya mengurus anak.

Ara sama Pakdhe Yudi (Husband and Dad to be)

Dari Se-cobek Sambal, Lahirlah Petuah Bijak

Pagiiiiiii!!!!

Sudah sarapan belum niih?? Kalau sudah, apa menu sarapan mbak-mbak dan mas-mas pagi ini?

Kalau di meja makan di rumah saya pagi ini menu-nya cukup sederhana tapi sangat yummy. Se-cobek sambal, ikan pindang goreng, tempe goreng, dan nggak lupa krupuk untuk meramaikan acara makan. Eh,, tapi apa hubungannya sambal sama petuah bijak?

Begini ceritanya, sambil menikmati sarapan yang sederhana tapi bergizi itu, saya teringat kejadian beberapa hari yang lalu. Saat itu Ibu saya memasak iga bakar plus sambal untuk menemani. Bapak yang memang kurang suka pedas mengomentari sambal buatan Ibu bahkan sebelum dicicipi. Ibu pun dengan santai menjawab, “Coba dulu laaah…”

Singkat cerita, setelah menikmati iga bakar plus sambal (yang tadinya dipandang sebelah mata) Bapak langsung berkata, “Hmmm,, iya Bu. Sambelnya enak….”

Dari ucapan Bapak itulah, tiba-tiba Ibu menyampaikan petuah bijaknya. “Makanya,, segala sesuatu itu jangan dipandang sebelah mata. Apa yang kita lihat buruk awalnya, sesungguhnya belum tentu buruk aslinya. Apalagi kalau tentang sesuatu yang belum kita tahu. Jadi jangan dulu berkomentar miring sebelum tahu penyebabnya..”

Wah,, benar-benar nggak nyangka. Dari hal kecil seperti sambal itu, bisa muncul petuah bijak dari seorang Ibu ya?

First Smile dari si Embem Ara

Sejak berubah status jadi seorang ibu, saya jadi punya kebiasaan mengamati Ara. Kalau sudah begitu, tiba-tiba bibir ini membentuk senyum dengan sendirinya. Melihat mata sipitnya, hidung mentul (pinjam istilah si ayah), bibir mungil, dagu lancip, dan yang pasti pipi tembemnya.

Si ayah, yang terpaksa jauh karena kerja, sangat sangat hobi melihat futu-futu Ara. Sebagai amunisi pelepas rindu, si Ayah pun seneng banget memotret Ara dalam keadaan apapun. Ya waktu tidur, mandi, nangis, dst. Sayangnya sampai Ara berusia 1 bulan, si Ayah belum punya koleksi foto ketawa Ara. Yah, mau gimana lagi, kan emang jauh. Jadi nggak bisa setiap saat stanby motret waktu Ara tertawa.

Di suatu pagi, Ara yang sudah berusia 1,5 bulan pun bangun pagi. Cuma ada si Ibu, yang masih ngantuk, yang sadar kalau ada sesuatu yang berbeda di pagi itu. Saat itu, Ara sedang setor senyum dan tertawa pada pagi. “Assalamu’alaikum,, selamat pagi ibuuuu….” mungkin itu yang Ara maksud waktu melempar senyumnya. Teringat obsesi si Ayah yang belum punya foto tertawa si Ara, iseng-iseng si Ibu mulai menggoda Ara dan berharap bisa mengambil foto cantiknya itu.

Melihat Ara yang masih segar semangat pagi membara, si Ibu mulai mengambil kamera. Dan dengan bantuan Eyang Putri dan si Ibu yang berucap, “Assalamu’alaikum anak ibuuuu… Udah bangun yaaa… Mana senyumnya Ara???”, Ara pun berhasil tertawa terpingkal-pingkal. Hasilnya adalah sebuah foto manis yang jadi favorit semua. Sampai-sampai Eyang Putri menjadikan foto itu sebagai wallpaper di HP-nya. Tak ketinggalan kedua Eyang Pemalang tak bosan-bosannya melihat foto cucu pertamanya itu.

Sampai sekarang, memang nggak ada bosannya lihat foto Ara… 😛

Foto paling manis dari si Ara

Foto paling manis dari si Ara

Kisah Emak Baru: Antara Over Worrying dan Over Feeding

Jadi ibu baru means belajar (banyak banget) hal baru. Banyak kejadian-kejadian kecil tentang Ara yang membuat saya jadi khawatir (bahkan sampai over). Salah satunya adalah gumohnya yang (menurut saya) diatas ambang batas normal.

Sejak produksi ASI saya mulai banyak, Ara jadi lepas sufor (susu formula) dan nafsu minumnya jadi semakin besar. Akibatnya saya harus standby kapanpun dia mau minum ASI. Permasalahan muncul ketika beberapa saat (atau lama) setelah minum ASI, Ara mengeluarkan lagi ASI yang dia minum. Gumoh istilahnya. Gumohnya bukan cuma berupa cairan putih saja, tapi juga berupa gumpalan2 putih yang bercampur dengan cairan bening yang baunya pahit alias seperti muntah. Kuantitasnya pun bukan sekali-dua dalam sehari, tapi sampai berkali2. Betul2 bikin kuatir deh!

Saya pun mencari2 tentang gumoh, pemberian ASI yang benar, dst. Dan di hampir semua artikel yang sy baca, tanda-tanda yang ditunjukkan Ara membuat saya makin khawatir. Dengan agak parno akhirnya saya bawa Ara ke dokter. Saya pun menceritakan ini-itu ke dokter. Wajah dokter yang berubah menjadi serius saat saya bercerita tentang kondisi Ara makin membuat hati kebat-kebit. (Hmm,, kenapa nih ya si Ara?)

Kemudian si dokter pun mendekati Ara dan memeriksanya. Tiba-tiba dokter pun berbalik kearah saya dan mengatakan, “Bu,, ini anaknya nggak apa-apa kok. Kalau dalam istilah kami sih.. ini namanya over feeding. Over Feeding maksudnya sewaktu lambung anak masih kenyang, sudah diisi lagi. Jadi ya wajar kalau kelebihan itu keluar lagi lewat mulut alias gumoh. Karena yang di lambung kan belum selesai dicerna.”

“Apalagi ini anak ibu berat badannya sudah naik. Ibu nggak perlu khawatir. Yang harus dikhawatirkan itu kalau gumohnya berlebihan dan berat badan anak stagnan atau malah turun.” kata pak Dokter.

Mendengar itu, langsung saja mulut ini membentuk huruf ‘O’. Oooo.. jadi begitu rupanya… Hehehe, padahal udah khawatir tingkat tinggi. Alhamdulillah ternyata Ara sehat-sehat aja. Tapi ya itu yang harus diperhatikan supaya tidak over feeding ya memberi ASI sedikit-sedikit tapi sering.

Untuk menyiasati bayi yang sering gumoh, bisa dilihat di artikel yang ada di Ayahbunda ini.

..semangkuk hikmah dari cerita sopir angkot..

Di suatu sore sepulang kerja, saya agak sebal karena angkot yang saya tumpangi suka banget ngetem. Hmm,, memang sih penumpangnya cuma tiga orang. Kejar setoran pasti jadi alasan si abang buat ngetem. Melihat muka penumpang yang duduk disebelahnya (yaitu saya) kucel dan ditekuk-tekuk kayak origami, si abang sopir bilang, “Maaf ya, mbak.. ngetem dulu nih nyari penumpang”. Dalam hati saya masih suntuk merutuk, “Kalo ngetem terus,, kapan nih bisa nyampe kontrakan? 😦 ”

Nggak lama kemudian, si abang mulai tanya-tanya. Kerja atau kuliah, sudah menikah atau belum, dan pertanyaan standar lainnya. Wah,, jadi berasa selebriti nih. Hehehe.. Diberondong pertanyaan seperti itu, saya jawab singkat-singkat aja. Ceritanya lagi nunjukin kesebelan saya karena angkotnya nggak segera berangkat.

Setelah beberapa penumpang lainnya bergabung, angkot akhirnya jalan lagi. Semoga nggak ngetem-ngetem lagi.. 🙂
Dalam perjalan itu, si abang nggak berhenti bercerita. Cerita yang nantinya malah membuat saya merasa tertampar (Auww…).

Ternyata si abang cuma lulusan SMA dan langsung bekerja selepas tamat SMA. Alasan ekonomi membuat si abang yang orang asli Jawa Tengah merantau ke Jakarta. Awalnya dia bekerja di PLN, tapi karena alasan gaji yang tidak sebanding dengan resiko, si abang langsung banting setir menjadi sopir. Si abang ini ternyata sudah menikah. Katanya sih, istrinya punya pekerjaan yang penghasilannya sudah cukup untuk mereka berdua. Dan lagi, istrinya juga berasal dari keluarga yang cukup berada. Wih,, keren juga nih si abang.. 😀

Walaupun keluarga istrinya kurang setuju sama pernikahan mereka, istrinya cukup kekeuh untuk membela si abang. Dan kerjanya sebagai supir angkot dengan penghasilan tak seberapa ini membuat si abang merasa masih punya muka di depan keluarga istrinya.

Berkali-kali, si abang bilang bersyukur sekali punya istri seperti istrinya itu. Walopun punya penghasilan yang jauh lebih besar, tapi istrinya nggak memandang rendah si abang. Mengurus pekerjaan rumah tangga pun dilakukannya sendiri. Bener-bener istri idaman ya..

Dan cerita si abang tiba-tiba nepok pipi saya yang lagi berjerawat. Auwww!!!
Kalo dilihat lagi,, pengabdian saya sebagai istri yang baru berumur 3 bulan ini nggak ada apa-apanya. Karena berbagai alasan, saya lebih sering beli makanan daripada masak. Dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga kalo lagi sempat.
Hiks,, suamiku.. maaf ya…
Harus belajar jadi istri yang baik buat suami saya..

-Yang sedang belajar jadi istri yang baik..

Cerita keluarga kucing…

Suatu hari yang cerah di sebuah proyek perumahan, terlihat sebuah warung makan. Didalamnya, duduk bercengkrama beberapa orang yang berteduh sambil minum es teh dan keluarganya. Duduk pula saya sebagai salah satu pendengar sambil icip-icip teh manis.

Pandangan saya tercuri oleh pemandangan anak2 kucing yang lahirnya belum genap seminggu. Anak2 kucing itu tertidur sambil menyandar satu sama lain. Ketika salah satu bergerak mengubah posisi tidur, yang lain pun (terpaksa atau tidak) ikut berganti posisi. Hehehehe,, gemes rasanya.. 🙂

si imuts (kittens)

Tak lama kemudian induk kucing datang dan menjilati satu persatu badan anaknya. Memberi tahu, bahwa emaknya sudah siap memberi ASI (Air Susu Induk_kucing). Dan tak perlu menunggu lama, anak2 kucing itu langsung menyerbu emak mereka.

Subhanallah.. Jadi gimanaaa gitu..
Melihat anak2 kucing itu aktif berebut posisi, ada yang udah posisi wuenak, ada yang kesana kemari karena nggak dapet posisi….membuat tangan saya gatel untuk motret2 keluarga itu..
Maap ya,mak..pripasinya terganggu.. 😛

2012!!! tahun baru.. suasana baru..

Yeay!!!
Akhirnya bisa juga menelurkan postingan baru di awal tahun 2012 ini. Janji untuk update blog setiap hari koq sepertinya susaaah sekali diwujudkan. Apa karena kemauan yang kurang ya?
Hehehe…

Tahun 2012 ini, benar-benar memberikan suasana yang baru..
Pertama,, suasana keluarga. Keluarga saya bertambah.. Kalo dulu hanya ada bapak-ibu,, sekarang ditambah papa-mama. 2 pasang orang tua sekaligus. Plus 2 orang adik laki-laki. Jadi keluarga besar deh! 🙂
Suasana yang baru terbangun juga suasana berumah tangga. Awalnya agak-agak aneh,, karena tau-tau ada 1 orang tambahan dalam hidup kita. Tapi,, insyaAllah, nanti juga terbiasa.. 🙂

Yang kedua,, suasana kerja. Walaupun udah sejak awal Desember saya bekerja, tapi 1 bulan full itu digunakan untuk pelatihan. Masih jadi anak bawang nih, ceritanya. Bulan Januari ini,, saya sudah mulai bertugas. Hmm,, semoga bisa kerja dengan memberikan hasil yang terbaik.

Previous Older Entries